Manusia dan keindahan adalah dua hal yang tidak
pernah akan lepas dan tidak dapat dipisahkan, karena pada dasarnya manusia itu
sendiri adalah karya cipta Allah yang paling indah dan terencana. Bayangkan,
mulai dari penempatan mata, hidung, mulut dan anggota tubuh lainnya, bahkan
jauh dari itu semua akal adalah ciptaan yang paling menakjubkan yang hanya
Allah berikan kepada manusia. Dan pada hakekat diri Allah itu sendiri adalah
dzat yang Maha Indah dan cinta pada keindahan.
Sesuatu yang indah paling tidak akan dapat dirasakan dengan panca indra manusia, baik visual maupun audio visual yang dimiliki oleh manusia. Namun ada kalanya manusia juga mengedepankan nilai moral pada penilian keindahan tersebut dengan harapan dapat memupuk sensitifitas moral pada sebuah arti keindahan. Sehingga disebutkan bahwa yang indah itu hanyalah yang baik, jika belum baik maka tidak indahlah sesuatu tersebut dan lebih jauh lagi keindahan yang tidak didasari oleh moralitas belum disebut sebuah keindahan.
Di setiap jiwa manusia pastilah mempunyai naluri estetika dan juga manusia membutuhkan seni dan keindahan itu sendiri. Di dunia ini telah banyak hasil kesenian yang akan menggugah hati untuh menikmati hal tersebut sebagai sebuah keindahan yang telah diciptakan oleh orang. Baik itu berupa karya arsitektur seperti candi Borobudur, patung. Seni rupa seperti lukisan. Nada berupa musik bahkan karya tulis sekalipun adalah bagian dari hasil karya manusia yang mengandung keindahan.
Bagaimana kita menghargai hasil kesenian tersebut? dan banyak cara untuk menikmati karya seni, seperti melihatnya, mendengarkan, membaca. Dengan hal itu isi/makna dari hasil seni tersebut akan dapat kita pahami.
Namun yang terpenting dalam menghargai hasil kesenian adalah dengan menikmati karya cipta seni tersebut bisa menumbuhkan semangat untuk berkesenian dalam segala dimensinya, bisa menjadi penyemangat dalam berkesenian dan menjadikannya sebuah tantangan untuk bisa menghasilkan yang lebih baik dari yang dinikmati.
Dan yang pasti seni, keindahan dan indah itu sendiri adalah berkah, nikmat dan karunia tuhan yang harus dinikmati bukan dihina.
Sesuatu yang indah paling tidak akan dapat dirasakan dengan panca indra manusia, baik visual maupun audio visual yang dimiliki oleh manusia. Namun ada kalanya manusia juga mengedepankan nilai moral pada penilian keindahan tersebut dengan harapan dapat memupuk sensitifitas moral pada sebuah arti keindahan. Sehingga disebutkan bahwa yang indah itu hanyalah yang baik, jika belum baik maka tidak indahlah sesuatu tersebut dan lebih jauh lagi keindahan yang tidak didasari oleh moralitas belum disebut sebuah keindahan.
Di setiap jiwa manusia pastilah mempunyai naluri estetika dan juga manusia membutuhkan seni dan keindahan itu sendiri. Di dunia ini telah banyak hasil kesenian yang akan menggugah hati untuh menikmati hal tersebut sebagai sebuah keindahan yang telah diciptakan oleh orang. Baik itu berupa karya arsitektur seperti candi Borobudur, patung. Seni rupa seperti lukisan. Nada berupa musik bahkan karya tulis sekalipun adalah bagian dari hasil karya manusia yang mengandung keindahan.
Bagaimana kita menghargai hasil kesenian tersebut? dan banyak cara untuk menikmati karya seni, seperti melihatnya, mendengarkan, membaca. Dengan hal itu isi/makna dari hasil seni tersebut akan dapat kita pahami.
Namun yang terpenting dalam menghargai hasil kesenian adalah dengan menikmati karya cipta seni tersebut bisa menumbuhkan semangat untuk berkesenian dalam segala dimensinya, bisa menjadi penyemangat dalam berkesenian dan menjadikannya sebuah tantangan untuk bisa menghasilkan yang lebih baik dari yang dinikmati.
Dan yang pasti seni, keindahan dan indah itu sendiri adalah berkah, nikmat dan karunia tuhan yang harus dinikmati bukan dihina.
1. PENGERTIAN KEINDAHAN
Keindahan
berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan
sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, (meskipun
tidak semua hasil seni indah), pemandangan alamn (pantai, pegunungan, danau,
bunga-bunga dilereng gunung), manusia (wajah, mata, bibir, hidung, rambut,
kaki, tubuh), rumah (halaman, tatanan, perabotan rumah tangga, dan sebagainya),
suara, warna, dan sebagainya. Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas,
seluas keaneragaman manusia dan sesuai
pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial dan budaya. Karena
itu dikatakan bahwa keindahan adalah bagia dari hidup manusia.
Keindahan
adalah identik dengan kebenaran. Keindahan adalah kebenaran, dan kebenaran
adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai
daya tarik yang selalu bertambah, yang
tidak mengandung kebenaran berarti tak indah.
Keindahan
juga disebut universal, artinya tidak terikat oleh selera perorangan, waktu dan
tempat, selera mode kedaerahan atau lokal.
a. Apa keindahan itu ?
Berbicara
tentang keindahan mau tak mau kita harus menengok jauh kebelakang yaitu zaman
yunani kuna, abad ke-18. Pada saat itu pengertian keindahan telah dipelajari
oleh para filsuf. Menurut The Liang Gie dalam bukunya “Garis Besar Estetik” (filsafat keindahan) dalam bahasa inggris
keindahan itu diterjemahkan dengan kata ”beautiful”,
perancis ”beau”, italia dan spanyol ”bello”, kata-kata itu berasal dari bahasa latin ”bellum”. Akar katanya adalah ”bonum” yang berarti kebaikan kemudian mempunyai
bentuk pengecilan menjadi ”bonellum” dan terakhir di pendekkan sehingga di
tulis ”bellum”.
Selain
itu menurut luasnya dibedakan pengertian :
Keindahan dalam arti luas. Keindahan dalam
arti estetik murni. Keindahan dalam arti terbatas dalam hubunganya dengan
penglihatan. Selanjutnya The Liang Gie menjelaskan, bahwa keindahan dalam arti
luas mengandung pengertian ide kebaikan. Misalnya plato menyebut watak yang
indah dan hukum yang indah, sedangkan Aristoteles merumuskan keindahan sebagai
sesuatu yang baik dan juga menyenangkan. Plotinus mengatakan tentang ilmu yang
indah dan kebajikan yang indah. Orang yunani berbicara pula mengenai buah
pikiran indah dan adat kebiasaan yang indah.
Jadi pengertian seluas-luasnya
meliputi :
1. Keindahan seni
2. Keindahan alam
3. Keindahan moral
4. Keindahan intelektual
Keindahan
dalam arti estetik murni menyangkut pengalaman estetik seorang dalam hubunganya
dengan segala sesuatu yang di serapnya.
Keindahan
dalam arti terbatas, mempunyai arti yang lebih disempitkan sehingga hanya
menyangkut benda-benda yang dapat diserap dengan penglihatan, yakni berupa
keindahan bentuk dan warna. Jadi keindahan pada dasarnya adalah sejumlah
kualita pokok tertentu yang terdapat pada suatu hal. Kualita yang sering
disebut adalah kesatuan (unity), keseimbangan (balance), dan kebalikan
(contarst). Dari ciri itu dapat di ambil kesimpulan, bahwa keindahan tersusun
dari berbagai keselarasan dan kebalikan dari garis, warna, bentuk, nada, dan
kata-kata.\
b. Nilai entetik
Dalam
rangka teori umum tentang nilai The Liang Gie menjelaskan bahwa, pengertian
keindahan di anggap sebagai salah satu
jenis nilai seperti halnya nilai moral, nilai ekonomi, nilai pendidikan,
dan sebagainya. Dalam ”Dictionary
of Sociology and Related Science” di berikan rumusan tentang nilai sebagai berikut :
Kemampuan
yang di anggap ada pada suatu benda yang dapat memuaskan keinginan manusia.
Siffat dari suatu benda yang menarik minat seseorang atau suatu kelompok.
Bahwa
nilai adalah semata-mata adalah realita psikologi yang harus di bedakan secara
tegas dari kegunaan, karena terdapat dalam jiwa manusia dan bukan pada
hendaknya itu sendiri. Tentang nilai itu ada yang membedakan antara nilai
subyektif dan obyektif, atau ada yang membedakan nilai perseorangan dan nilai
kemasyarakatan. Tetapi penggolongan yang penting ialah nilai ekstrinsik dan
intrinsik.
Nilai
ekstrinsik adalah sifat baik dari suatu benda sebagai alat atau sarana untuk
sesuatu hal (instrumental/ contributory value), yakni nilai yang bersifat
sebagai alat atau membantu.
Nilai
intrinsik adalah sifat baik dari benda yang bersangkutan, atau sebagai suatu
tujuan, ataupun demi kepentingan benda itu sendiri.
Contoh :
1. Puisi, bentuk puisi yang terdiri dari
bahasa, diksi, baris, sajak, irama, itu disebut nilai ekstrinsik. Sedangkan
pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca melalu alat benda puisi tersebut
disebut nilai intrinsik.
2. Tari, tarian damarwulan-menakjinggo suatu
tarian yang halus dan kasar dengan segala macam jenis pakaian dan
gerak-geriknya adalah tari perang antara damar wulan-menakjinggo merupakan
nilai ekstrinsik. Sedang pesan yang disampaikan oleh tarian itu ialah kebaikan
melawan kejahtan merupakan nilai intrinsik.
c. Apa
Sebab Manusia Menciptakan Keindahan ?
Keindahan
itu pada dasarnya adalah alamiah. Alam itu ciptaan tuhan. Ini berarti bahwa
keindahan itu ciptaan tuhan. Alamiah itu artinya wajar, tidak berlebihan dan
tidak pula kurang. Kalau pelikis wanita lebih cantik dari keadaan yang
sebenarnya, justru tidak indah. Karena akan ada ucapan lebih cantik dari warna
aslinya. Bila ada pemain drama yang berlebih lebihan, misalnya marah dengan
meluap-luap padahal kesalahan kecil, atau karena kehilangan sesuatu yang tak
berharga kemudian menangis meraung-raung, itu berarti tidak alamiah.
Kesimpulan
:
Keindahan berasal dari kata indah berarti
bagus, permai, cantik, molek dan sebagainya. Benda yang mengandung keindahan
ialah segala hasil seni dan alam semesta ciptaan tuhan. Sangat luas kawasan
keindahan bagi manusia. Karena itu kapan, dimana, dan siapa saja dapat
menikmati keindahan.
Keindahan identik dengan kebenaran.
Keduanya memiliki nilai yang sama abadi dan mempunyai daya tarik yang selalu
bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Keindahan
bersifat universal.
Keindahan dalam arti estetik murni mencakup
pengalaman estetik seseorang dalam hubunganya dengan segala sesuatu yang di
serapnya. Keindahan dalam arti terbatas berupa keindahan bentuk dan warna.
Definisi keindahan sangat luas, karena itu
dalam estetika modern orang lebih suka berbicara tentang seni dan estetika,
karena hal itu merupakan gejala kongkrit yang dapat di telaah dengan pengalaman
secara empirik dan penguraian sistematik.
Nilai estetik : nilai berarti kebenaran
(worth) atau kebaikan (goodness). Nilai estetik sesuatu adalah semata-mata
realita psikologik yang harus dibedakan secara tegas dari kegunaan, karena
terdapat pada jiwa manusia dan bukan pada bendanya itu sendiri.
2. MAKNA KEINDAHAN
Mejawab pertanyaan sekitar apa itu
keindahan, boleh jadi merupakan pekerjaan yang sulit. Ini kalau yang di tuntut
jawaban yang bisa memuaskan semua pihak. Kesulitan semacam itu memang bisa di
mengerti oleh karena sampai sekarang ini kita bisa temukan berbagai batasan
atau pengertian tentang keindahan yang celakanya, berada satu sama lain.
Sekedar penguat konstatasi di atas, baik
juga di lihat beberapa persepsi tentang keindahan berikut ini :
1. Keindahan adalah sesuatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang
melihat.
2. Keindahan adalah keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur dari
bagian-bagian yang saling berhubungan satu sama lain, atau dengan keseluruhan
itu sendiri.
3. Yang indah hanyalah yang baik. Jika belum baik ciptaanya itu belum
indah. Keindahan harus bisa memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan-ciptaan yang
amoral tidak bisa dikatakan indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk
moral.
4. Keindahan dapat terlepas sama sekali dari kebaikan.
5. Yang indah memiliki proporsi yang harmonis. Karena proporsi yang harmonis
itu nyata, maka keindahan itu dapat di samakan dengan kebaikan. Jadi yang indah
adalah nyata dan yang nyata adalah yang baik.
6. Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang.
7. Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang, dan itu
adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan
pengalaman yang menyenangkan.
Dengan melihat demikian beragamnya
pengertian keindahan, dan kita harus percaya bahwa yang di atas itu hanyalah
sebagian kecil, boleh jadi akan mengecewakan kita yang menuntut adanya suatu
pengertian yang tunggal tapi yang memuaskan. Namun demikian, dari pengertian
yang ada, sebenarnya, kita bisa menempatkannya dalam kelompok-kelompok
pengertian sendiri, paling tidak kita bisa menangkap arah atau kecenderungan
dari suatu pengertian yang di kemukakan seseorang sesuai dengan
pengelompokan-pengelompokan yang ada. Pengelompokan-pengelompokan yang dapat
kita sebut adalah sebagai berikut :
1. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar pada titik pijak atau
landasannya.
Dalam hal ini ada dua pengertian
keindahan, yaitu yang bertumpu pada obyek dan subyek. Yang pertama, yaitu
keindahan yang obyektif, adalah keindahan yang memang ada pada obyeknya
sementara kita sebagai pengamat harus menerima sebagai semestinya. Sedang yang
kedua, yang disebut keindahan subyektif adalah keindahan yang biasanya di
tinjau dari segi subyek yang melihat dan menghayatinya.
2. Pengelompokan pengertian keindahan dengan berdasarkan pada cakupanya.
Bertitik tolak dari landasan ini kita bisa
membedakan antara keindahan sebagai kualitas abstrak dan keindahan sebagai
sebuah benda tertentu yang indah.
3. Pengelompokan pengertian keindahan berdasar luas sempitnya. Dalam
pengelompokan ini kita bisa membedakan antara pengertian keindahan dalam arti
luas, dalam arti estetik murni, dan dalam arti yang terbatas. Keindahan dalam
arti luas, menurut The Liang Gie, mengandung gagasan tentang kebaikan.
Dari apa yang di kemukakan di atas, dua
hal bisa kita petik, yaitu : pertama, keindahan menyangkut persoalan filsafati,
sehingga jawaban terhadap apa itu keindahan sudah barang tentu bisa
bermacam-macam. Kedua, keindahan sebagai pengertian mempunyai makna yang
relatif, yaitu sangat tergantung pada subyeknya.
3.
RENUNGAN
Renungan
berasal dari kata renung, merenung artinya dengan diam-diam memikirkan sesuatu,
atau memikirkan sesuatu dengan dalam-dalam. Renungan adalah hasil dari
merenung.
Setiap
kegiatan untuk merenengkan atau m,engevaluasi segenap pengetahuan yang telah
dimiliki dapat disebut berfilsafat. Pemikiran kefilsafatan mendasarkan diri
kepada penalaran. Penalaran adalah proses berpikir yang logic dan analitik.
Berpikir merupakan kegiatan untuk menyusun pengetahuan yang benar.
Pemikiran
kefilsafatan mempunyai 3 macam cirri, yaitu:
1. Menyeluruh artinya pemikiran yang luas, bukan hanya di tinjau dari
sudut pandangan tertentu.
2. Mendasar artinya pemikiran yang dalam sampai kepada hasil yang
fundamental (ke luar gejala), sehingga dapat dijadikan dasar berpijak bagi
segenap keilmuan.
3. Spekulatif artinya hasil pemikiran yang dapat di jadikan dasar untuk
pemikiran-pemikiran selnjutnya. Hasil pemikirannya selalu dimaksudkan sebagai
dasar untuk menjelajah wilayah pengetahuan yang baru.
Renungan atau pemikiran yang dibahas dalam
makalah ini ialah yang berhubungan dengan keindahan. Setiap hasil seni lahir
dari hasil renungan. Tanpa direnungkan hasil seni tidak mencapai keindahan.
Renungan atau pemikiran yang berhubungan
dengan keindahan didasarkan atas tiga macam teori, ialah teori pengungkapan,
teori metafisika, dan teori psikologis. Masing-masing teori itu ada tokohnya.
Dalam teori pengungkapan dikatakan oleh Benedetto Croce, bahwa seni adalah
pengungkapan kesan-kesan.
Dalam teori metafisika, Plato mendalilkan
adanya dunia ide pada taraf yang tertinggi, sebagai realita ilahi itu.
Sedangkan dalam teori psokologik dinyatakan bahwa sadar dari seorang seniman.
Dari teori permainan yang masih tergolong
teori odikologik dengan tokohnya Freidrick Schiller dan Herbert Spencer,
Schiller menyatakan bahwa asal mula seni adalah dorongan batin untuk bermain-main ( play impulse ).
Dalam proses jiwa seniman pada waktu
merenung dalam rangka menciptakan seni, menurut Keats selalu diliputi rasa
ragu-ragu, takut, ketidaktentuan, misterius (negative capability). Selain
daripada itu Keats menyatakan, bahwa untuk mengatasi ketakutan ialah
berkuasanya hal-hal yang sesaat. Baginya hal-hal sesaat itu merupakan pelatuk
yang meledakkan imajinasi, dan imajinasi ini yang membentuk konsep keindahan.
Selanjutnya konsep keindahan adalah abstrak. Konsep itu baru berjkomunikasi
setelah di beri bentuk.
4. KESERASIAN
Keserasian berasal dari
kata serasi dan dari kata dasar rasi, artinya cocok, kena benar, dan sesuai
benar. Kata cocok, kena dan sesuai itu mengandung unsur perpaduan,
pertentangan, ukuran dan seimbang.
Dalam pengertian perpaduan misalnya,
orang berpakaian hams dipadukan wamanya bagian atas dengan bagian. bawah. Atau
disesuaikan dengan kulitnya. Apabila cars memadu itu kurang cocok, maka akan
merusak pemandangan. Karena itu dalam keindahan ini, sebagian ahli pikir
menjelaskan, bahwa keindahan pada dasamya adalah sejumlah kualitas / pokok
tertentu yang terdapat pada sesuatu hal. Kualita yang paling sering disebut
adalah kesatuan (unity).
Filsuf Ingris Herbert Read merumuskan
definisi, bahwa keindahan adalah kesatuan dan hubungan-hubungan bentuk yang
terdapat di antara pencerapan-pencerapan inderawi kita (beauti is unity of
formal relations among our sence-perception). Pendapat lain menganggap
pengalaman estetik suatu keselarasan dinamik dari perenungan yang menyenangkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar